1.15.2009

Isu Rekayasa di Balik Jerat Tifatul

Kabar tidak sedap berhembus seiring penetapan Presiden PKS Tifatul Sembiring menjadi tersangka. Motif politik diduga ikut bermain dalam kasus tersebut. Upaya menjegal pencapresan Tifatul.

Tifatul bersama Ketua DPW PKS DKI Jakarta Triwisaksana dan Ketua PKS Jakarta Pusat M Agus resmi dijadikan tersangka oleh Polda Metro Jaya akhir pekan lalu. Mereka disangka telah melanggar ketentuan kampanye dalam UU 10/2008. Ketiganya dianggap melakukan kampanye terselubung dalam demo mengecam Israel pada 2 Januari lalu.

Adalah anggota FPDIP DPR, Permadi, yang mengungkapkan adanya dugaan rekayasa di balik kasus ini. Apalagi, saat ini wajar bila pemerintah ikut turut campur di tengah hiruk pikuk masa kampanye. "Lagi pula, Hidayat Nur Wahid juga mengakui adanya pelanggarn artinya itu memang ada kesalahan," jelas Permadi kepada INILAH.COM.

Pengamat politik UI, Boni Hargens, menambahkan rekayasa tersebut terkesan ingin menjegal laju Tifatul meramaikan Pilpres mendatang. "Saya kira dalam waktu pemilu yang semakin dekat ini, sangat mungkin terjadi seorang incumbent melancarkan sebuah strategi politik untuk memangkas lawan politiknya," cetus Boni.

Belum lagi, jelas dia, sudah ada beberapa kasus penjegalan serupa yang menimpa capres lain. "Seperti Sultan yang diasingkan dari asosiasi Gubernur, lalu Rizal Ramli yang juga ditetapkan sebagai tersangka demo rusuh. Itu semua jelas menunjukkan," beber Boni.

Boni berpendapat tindakan penjegalan ini menunjukkan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mendukung incumbent untuk menang. Sebab, peluang SBY sebagai presiden untuk memanfaatkan perangkat elektoral seperti Bawaslu dan KPU sangat terbuka lebar. "Konspirasi antara penyelenggara pemilu dengan pemerintah bisa terjadi di level nasional. Sangat mungkin terjadi bahwa Bawaslu bekerja untuk calon tertentu dan itu biasa incumbent," tegasnya.

Meski di satu sisi, ia menganggap PKS memang memanfatkan isu Palestina sebagai ajang kampanye. Ia menyontohkan Tifatul sempat membacakan program politik internasional PKS di depan massa demonstran. "Tapi sebenarnya, langkah Panwaslu melaporkan Tifatul tidak memiliki dasar hukum yang kuat. Seharusnya, bila memang melanggar kampanye yang mestinya dipersoalkan itu adalah PKS secara organisasi, bukan individunya," kata Boni.

Tifatul sendiri menanggapi penetapan tersangka bukan sebagai bentuk penjegalan. ""Saya tidak setuju bila ini merupakan upaya penjegalan oleh SBY. Karena sampai ini PKS dengan pemerintahan SBY masih berkoalisi. Jadi itu tidak mungkin terjadi," jawabnya.

Namun dirinya tidak menampik ada upaya memolitasi demo Palestina yang dilakukan PKS beberapa waktu lalu. Sebab, apa yang dilakukan PKS semata-mata alasan kemanusiaan bukan kampanye. Terlebih, saat ini merupakan masa kampanye pemilu.

"Itu sangat mungkin terjadi karena ini sudah menjelang pemilu. Tapi yang pasti, pengerahan masa oleh PKS itu tidak menyampaikan visi-misi maupun program partai. Jadi ini tidak bisa disebut kampanye," ujar Tifatul.

Dituding melakukan praktik kotor, Partai Demokrat menampik keras hal itu. Wakil Ketua Umum Partai Demokrat, Ahmad Mubarok, mengaku pihaknya tidak turut campur dalam kasus tersebut. "Tidak ada seperti itu. Pemerintah tidak turut campur dalam kasus itu. SBY itu orang yang tidak pernah mencampuri hukum, silakan hukum berjalan," tangkis Mubarok.

Kebenaran kabar ini memang masih akan diuji lanjut. Waktu nanti yang akan menjawab, apakah ada motif politik tambahan di balik pemeriksaan Tifatul atau memang murni Bawaslu menertibkan gaya PKS dalam berkampanye. Kita tunggu saja.





[+/-] Selengkapnya...

Presiden PKS: Kita Tetap Bela Palestina Walau Harus Dikurung

Meski telah membawa sejumlah petingginya tersangkut masalah hukum, PKS akan terus berdemo membela Palestina. Hal itu karena penyerangan membabi buta oleh Israel dianggap sudah tidak bisa ditoleransi.

"Selama penyerangan tetap membabi buta, kita siap bela. Setiap hari korban di Gaza bertambah," kata Presiden PKS Tifatul Sembiring usai diperiksa di Polda Metro Jaya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (15/1/2009).

Bahkan kata Tifatul, jika pembelaan yang dilakukannya bersama PKS akan membawanya ke penjara. "Kita akan berteriak hentikan serangan itu. Ternyata resikonya kita mau dikurung," lanjutnya.

Tifatul dan kedua pejabat PKS telah ditetapkan sebagai tersangka terkait demo anti Israel yang digelar beberapa waktu lalu. Panwaslu mengadukan partai ini ke polisi karena dianggap mencuri star kampanye Pemilu 2009.




[+/-] Selengkapnya...

12.26.2008

Bisakah Kita (Ummat) Bersatu?

Taujihat Menyambut Tahun Baru 1430 Hijriyah
Oleh: TIFATUL SEMBIRING
PRESIDEN PKS

Tahun baru hijriyah diyakini banyak pemikir Islam sebagai tahun kebangkitan Islam, bahkan menjadi titik balik kemenangan perjuangan Rasulullah saw. dan para shahabat. Setiap tahun kita memperingati tahun baru Islam ini, namun sudahkah secara substansial ada pencerahan di tubuh ummat dengan berlalunya tahun baru demi tahun baru? Sudahkah semangat energizing berhasil kita serap dari momentum yang menjadi titik balik kemenangan tadi…?. Masih banyak permasalahan ummat yang belum tuntas kita upayakan solusinya, termasuk masalah persatuan ummat dan pemunculan sosok-sosok pemimpin yang berkualitas.

Perpecahan selalu membawa malapetaka dan kerusakan besar di tengah-tengah ummat. Kurang percayakah kita? Kurang yakinkah kita setelah demikian banyak bukti sejarah memberi pelajaran? Perpecahan, perselisihan di perang Uhud misalnya, mengakibatkan gagalnya kemenangan yang semula sudah diraih. Rasulullah saw. tembus di pipinya karena dilempari dengan pecahan besi, yang ketika dicabut menyebabkan dua gigi beliau patah. Bahkan ketika para sahabat memapah beliau ke tempat yang lebih tinggi, Rasulullah saw terperosok ke dalam lubang jebakan yang berisi senjata tajam, sehingga paha beliau sobek dan jatuh pingsan karena begitu banyaknya darah yang keluar.

Kurang yakinkah kita akan efek dari perpecahan? Tengoklah perang Shiffin yang disebabkan oleh konflik antara Ali dan Mu’awiyah. Perang yang menelan korban 80.000 muslimin. Sebuah tragedi kelam dalam sejarah Islam. Belum paham jugakah kita bagaimana pedihnya perpecahan? Di Iraq, ratusan orang menjadi korban ketika kaum Syi’ah menyerang kaum Sunniy. Selanjutnya kaum Sunniy menyerang kaum Syi’ah sehingga meninggal pula sejumlah orang, dan seterusnya tak berkesudahan. Padahal sunniy bukanlah musuh syi’ah dan syi’ah bukanlah musuh sunniy? Musuh mereka adalah sang penjajah Amerika.
Belum sadarkah kita tentang apa yang terjadi di Palestina? Ketika Presiden Palestina—Mahmud Abbas—berkunjung ke Indonesia dan mengundang untuk berdiskusi, dengan tegas saya sampaikan kepada beliau, bahwa bangsa Palestina tidak akan meraih kemenangan kecuali mereka bersatu melawan Israel.
Benarlah kata Imam Ali dalam pesannya, “Kebenaran yang tidak terorganisir akan dapat dikalahkan oleh kebathilan yang terorganisir”.

Sesungguhnya modal kita untuk bersatu sangat sederhana. Ialah ketika kita sepakat untuk mengucapkan “Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadurrasulullah”. Bagi kami, ketika seseorang menyatakan komitmennya untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, cukuplah itu. Soal fiqh, furu’, cabang-cabang, pendapat, mari kita bicarakan, mari kita diskusikan, mari kita perdalam. Wong niatnya sama-sama mau masuk surga kok, kenapa harus cek-cok?


TANTANGAN & VISI KE DEPAN

Sebetulnya apakah persoalan pokok ummat? Agenda mendesak apa yang perlu kita selesaikan bersama? Hal terberat yang sedang dihadapi ummat kini adalah kemiskinan, yang nyaris mendekatkan mereka kepada kekufuran. Ada beberapa contoh kasus, di Bandung misalnya, seorang Ibu(berkerudung pula) sampai hati membunuh anaknya karena khawatir anak-anaknya miskin. Juga di Makassar, seorang Ibu yang sedang hamil meninggal karena kelaparan. Tiga hari dia tidak makan, demikian pula anak-anaknya.
Kelemahan ekonomi ummat adalah penyebabnya. Hingga saat ini kemampuan ummat untuk berekonomi belumlah memadai. Bagai menjadi budak di negeri sendiri. Baik dari sisi akses terhadap sumber daya maupun skill-nya. Ekonomi masih dikuasai oleh sistem, konvensional ribawi. Lalu datanglah krisis ekonomi, masalah semakin berat. Akibatnya langsung dapat dilihat. Untuk menyelamatkan keluarga, para gadis dan ibu-ibu berangkat menjadi TKW diluar negeri. Dimana ‘izzah ummat ?, martabat bangsa. Begitu kerap kita mendengar kasus-kasus yang menyayat hati: ada yang diperkosa, dihukum mati, ada yang terjun dari tingkat empat lantaran tidak tahan disiksa majikan. Dan kita tidak mampu melindungi mereka.
Masalah moral juga menorehkan catatan menyedihkan. Kita dapati tokoh-tokoh muslim yang namanya seperti nama Nabi, seperti gelar Nabi, seperti nama orang sholeh namun ditangkap KPK. Mereka menjadi harapan ummat, menyandang nama terpercaya, namun ternyata korupsi. Seberapa kuatkah komitmen moral kita? Moral Islam.

Agenda berikutnya adalah pendidikan. Soal penyiapan SDM unggul, yang dapat diandalkan menjalankan roda pembangunan ummat. Apalagi persiapan kepemimpinan nasional dimasa mendatang. Sekarang saja, bangsa besar ini seperti kebingungan mencari calon pemimpinnya. Kita masih saling bertanya satu sama lain, padahal kita berdoa “waj’alna lil muttaqiina imaman”. Kita mohon pada Allah swt. agar menjadikan anak-anak kita sebagai pemimpin orang-orang bertaqwa.
Memang kita memiliki banyak pesantren. Namun setelah kami riset, pesantren-pesantren tersebut dapat kita bagi dalam dua kategori. Kategori pertama adalah pesantren yang memiliki metode pengajaran dan kurikulum bagus, namun sarananya amat memprihatinkan. Di sebuah pesantren kami pernah menemukan sebuah ruang 3x4 m2 yang dihuni oleh 30 anak. Sanitasinya tidak terawat, bak penampung air mandi yang tak pernah diganti sehingga menyebabkan penyakit kulit. Bahkan ada sebuah pemeo, tidak sah menjadi santri kalau tidak kudisan.
Kelompok kedua adalah pesantren yang memiliki sarana bagus, namun kurikulumnya tidak memiliki keunggulan. Penyiapan kwalitas SDM ummat ini perlu pembenahan, dengan sinergi dan persatuan dan keuatan bersama tentunya.


SIAPA YANG HARUS BERBUAT?

Dalam konteks ummat Islam Indonesia setiap orang tentu merujuk kepada NU dan Muhammadiyyah dengan segenap elitenya. Pertanyaannya adalah, bisakah kita menurunkan tensi jurang pemisah. Saling adzillatin, menjalin tali asih. Saling merendah dan bukannya saling gengsi. Bisakah kita sesama ummat BERHENTI saling mencurigai(su’uzhan), saling mengintai(wa laa tajassasu), saling membelakangi dan saling menggunjing(ghibah). Kita membutuhkan persatuan dalam kesejukan ikatan kasih sayang persaudaraan. Bila bersatu, maka kita akan kuat dan insya Allah sanggup untuk menghadapi kekuatan kebathilan apapun bentuknya.

Sangat mungkin dan sangat layak ummat ini bersatu. Pak Din, Pak Hasyim dan Pak Hidayat—tokoh-tokoh harapan ummat--sama-sama alumni Gontor dan sama-sama menduduki posisi strategis. Dengan seringnya tokoh-tokoh yang dicintai ummat ini bersilaturahim, syak wasangka akan terhapus, keakraban akan kian kokoh dan berbagai pemikiran untuk kemajuan ummat dan bangsa akan mengalir deras. Terbayang betapa bahagia dan sejuknya hati ummat menyaksikan para pemimpinnya kokoh bersatu. Sesuatu yang sudah amat kita rindukan.

Tak ada ghill secuilpun dari kami terhadap NU dan Muhammadiyyah. Kami tidak memiliki rencana negatif apapun terhadap saudara-saudara kami NU dan Muhammadiyyah. Kami bergerak di ranah politik, sama dengan saudara-saudara kami parpol Islam lainnya. Membenahi eksekutif dan legislatif, mengadvokasi ummat di ranah pembuatan kebijakan publik. Bila perjuangan di ranah politik ini mendapat dukungan dari saudara-saudara kami yang lain, khususnya ormas-ormas, tentu kita akan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat.
Demikianlah harapan kita, ummat ini menjadi kuat, karena kita saling merunduk, saling merangkul, bagaikan satu tubuh. Sehingga kita (ummat) ini bisa dan harus bersatu untuk maju. Selamat Tahun Baru 1430 Hijriyah !
Sumber : DPP PKS

[+/-] Selengkapnya...

  © Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP